H. Cholid Mahmud, MT (duduk memakai baju koko) memberikan pengarahan kepada sejumlah pengurus dan anggota Paguyuban Pencari Rosok Bantul), Ahad (15/3).
Di saat krisis ekonomi global melanda, harga sembako semakin tak terjangkau. Masyarakat golongan ekonomi lemah semakin susah, tak terkecuali para pencari rosok. Harga jual barang-barang rosok turun drastis, misalnya besi kualitas utama perkilo sebelum krisis dihargai Rp 5.000, sekarang hanya Rp 2.000 perkilo. Sementara itu para pencari rosok dikejar-kejar rentenir yang selama ini menjadi andalan untuk mencari modal. Mereka terpaksa pinjam ke rentenir karena tidak punya jaminan untuk meminjam di bank.
Lima puluh orang anggota Paguyuban Pencari Rosok Mandiri (PPRM) Bantul bertemu dengan calon anggota DPD DIY nomer urut 2, H. Cholid Mahmud, MT di desa Nggrojogan, Tamanan, Banguntapan, Ahad (15/3). Dalam acara tersebut, Sutrisno selaku ketua paguyuban meminta bantuan kepada Cholid Mahmud untuk mendirikan lembaga atau koperasi yang legal bagi para pencari rosok. Lembaga tersebut berguna untuk melindungi hak-hak para anggota yang selama ini belum didapat.

H. Cholid Mahmud, MT (duduk memakai baju koko) memberikan pengarahan kepada sejumlah pengurus dan anggota Paguyuban Pencari Rosok Bantul), Ahad (15/3).
Untuk membuat sebuah lembaga resmi ternyata tidak mudah. Selain harus melewati proses birokrasi di pemda, Sutrisno mengungkapkan pernah ditolak beberapa kali oleh para notaris karena tidak mempunyai biaya untuk mengurusnya. Oleh sebab itu dalam acara tersebut Cholid Mahmud membawa seorang notaris untuk langsung mengurus pembentukan lembaga resmi pencari rosok. Saat ini anggota PPRM Bantul ada sekitar 1.000 orang.
Pada kesempatan itu Cholid Mahmud juga diminta untuk menjadi Pembina. Untuk menjaga kekeluargaan dan soliditas anggota perlu diadakan pertemuan rutin. Pertemuan tersebut direncanakan setiap selapan (empat puluh hari sekali) yang akan dipimpin langsung oleh Cholid Mahmud.
Salut buat pak Cholid, pemimpin memang seharusnya dekat dengan wong cilik.
Kalau program buat mahasiswa tidak mampu apa Pak?
menawi saged le celak kaliyan tiang alit, nggih mboten namung pas pemilu mawon…nanging sak lawase, nggih to pak?
Saya sangat bangga dengan semangat kerja dan semangat kemandirian mereka. Saya sama sekali tidak melihat wajah yang meng-iba- dan meminta belas kasihan, apalagi sekedar ‘menjual’ daftar nama orang menjelang pemilu. Tidak, sama sekali tidak!
Mereka adalah para pejuang dan pekerja keras, hanya saja dalam beberapa hal mereka memiliki keterbatasan akses dengan beberapa kalangan yang mereka perlukan, misalnya notaris. Saya bantu itu karena saya kenal dengan teman-teman notaris yang biasa melakukan kerja-kerja sosial.
Saya coba fasilitasi mereka untuk mengorganisir diri lebih baik, karena mungkin saya bisa melakukan hal sejenis itu. Mereka tahu saya tidak akan beri mereka uang, karena mereka tahu persis bagaimana saya bekerja.
Kami telah bersepakat untuk ketemu rutin selapan sekali tiap ahad wage. Tempatnya akan bergilir di rumah-rumah mereka. Dan harap tahu aja, ahad wage pertama itu justru setelah pemilu…
Dengan sesungguhnhya, saya mencintai mereka, para pekerja keras, orang-orang yang tak pernah terdengar berkeluh kesah. Saya ingin kebaikan mereka, baik kebaikan dunia maupun akhiratnya…