Kekhawatiran Rawan Sengketa Pemilu 2009 Terlalu Berlebihan

Kekhawatiran Rawan Sengketa Pemilu 2009 Terlalu Berlebihan

19 February 2009 18:01 WIB

Kategori: Jurnal

Tags: ,

Pemilu 2009

Pemilu 2009

Sudah sembilan kali bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat dan pemimpin negara. Pemilu yang akan kita lakukan 2009 mendatang merupakan pesta demokrasi yang ke-10. Dan Pemilu 2009 yang tinggal menghitung hari lagi, memberi andil besar dalam meningkatkan suhu perpolitikan nasional yang kini mulai memanas.

Eskalasi politik dalam Pemilu 2009 dikhawatirkan rawan sengketa. Sebagaimana dikuti dari berbagai media beberapa hari yang lalu, Ketua MK, Mahfud MD misalnya menyebutkan bahwa pemilu 2009 diprediksi akan rawan terjadi sengketa dan konflik. Hal ini disebabkan banyaknya partai politik peserta pemilu dan aturan ambang batas perolehan kursi di parlemen yang bisa memancing perkara. Senada dengan pernyataan tersebut, beberapa pihak pun beranggapan pesta demokrasi yang selalu diidentikkan dengan pesta rakyat menyimpan bara konflik yang sangat kontradiktif dan merugikan ketentraman dan kenyamanan masyarakat luas ketika terjadi gesekan antar caleg maupun Parpol sampai di tingkat basis massa.

Kekhawatiran ini agaknya terlalu berlebihan. Mengingatkan bangsa Indonesia memiliki sejarah pemilu yang cukup panjang dan sudah belajar dari 9 kali putaran pesta demokrasi. Dengan banyaknya pembelajaran ini bangsa Indonesia sepatutnya cukup bangga dengan pemilu damai yang berhasil dilakukan.

Pemilu pertama tercatat dilaksanakan tahun 1955, di usia 10 tahun Indonesia. Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkompetisi secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang memerintah, mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang menguntungkan partainya. Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. Pemilu berikutnya pun dilakukan beberapa tahun sesudahnya dengan baik.

Pemilu tahun 1999 menjadi contoh pula keberhasilan pemilu di Indonesia. Meskipun masa persiapannya tergolong singkat, pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 1999 ini bisa dilakukan sesuai jadwal, yakni tanggal 7 Juni 1999. Tidak seperti yang diprediksikan dan dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya, ternyata Pemilu 1999 bisa terlaksana dengan damai, tanpa ada kekacauan yang berarti.

Di rentang waktu tahun 2005 hingga tahun 2009 tidak hanya Pemilu yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, namun juga Pemilihan Kepala Daerah. Kasus pada beberapa Pilkada memang tidak bisa dielakkan karena menandingkan calon head to head, antara pendukung satu melawan pendukung lain, dan dalam suatu kawasan terbatas. Namun Pemilu, akan melibatkan masyarakat senegara dengan kawasan yang luas. Secara psikologis bangsa Indonesia sebaiknya ingat dengan cita-cita bangsa untuk mewujudkan pemerintahan yang adil, maka tidak perlu terlalu khawatir dengan Pemilu 2009 apabila telah melaksanakan sesuatunya sesuai dengan koridor yang ada.

Bagaimanapun penyelenggaraan Pemilu-pemilu tersebut merupakan pengalaman yang berharga. Sekarang, apakah pengalaman itu akan bermanfaat atau tidak semuanya sangat tergantung pada penggunaannya untuk masa-masa yang akan datang. Pemilu yang paling dekat adalah Pemilu 2009. Pengalaman tadi akan bisa dikatakan berharga apabila Pemilu 2009 nanti memang lebih baik daripada Pemilu 2004. Pemilu 2004 untuk banyak hal telah mendapat pujian dari berbagai pihak. Dengan pengalaman tersebut, sudah seharusnyalah bangsa Indonesia menatap Pemilu 2009 dengan optimisme untuk menentukan pemerintahan yang lebih baik.

Beri Komentar

Pak Cholid dalam video.

Gallery Cholid

Silaturahim WargaBersama KeluargaIKADI Jogja Gelar Syawalan Bersama Ust. Cholid Mahmud
Cholid Mahmud CenterCholid Award Ibu Teladan

Polling

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Cholid Mahmud Dimana Saja

My Facebook My Friendster